Barongsai menjadi atraksi yang menggambarkan toleransi masyarakat. Kehadirannya menyatukan perbedaan merekatkan keberagaman.
Atraksi barongsai di berbagai tempat kembali memeriahkan perayaan Tahun Baru Imlek 2025 di Lampung. Kesenian tersebut menjadi wujud keberagaman dan toleransi masyarakat. Imlek tak hanya dirayakan oleh masyarakat Tionghoa, tapi juga disambut suka cita semua kalangan.
Ratusan orang memadati pelataran Chandra Superstore, pusat perbelanjaan di Kecamatan Tanjung Karang Pusat, Kota Bandar Lampung, Rabu (29/1/2025) pagi. Masyarakat dari berbagai suku dan agama duduk berdampingan. Mereka menantikan atraksi barongsai jadwalnya dimulai pukul 10.00 WIB.
Ketika rombongan barongsai tiba, suara genderang dari tabuhan tambur dan simbal terdengar kencang. Sorak-sorai menggema. Anak-anak berebut ingin berfoto dengan barongsai.
Beberapa saat kemudian, para pemain barongsai mulai meliuk-liukkan badan diiringi alunan musik. Mereka menari lalu melompat-lompat.
Barongsai juga berjongkok hingga memperagakan gerakan naik ke pundak satu sama lain. Kamera video warga menyala dan mulai merekam barongsai beraksi.
Tidak hanya masyarakat Tionghoa, kebahagiaan menyambut perayaan Imlek juga dirasakan warga dari berbagai suku dan agama yang hidup berdampingan di Lampung. Barongsai menggambarkan harmonisnya hubungan itu.
Seperti yang dirasakan Retno (35), warga Kecamatan Kedaton, Kota Bandar Lampung. Retno merupakan warga keturunan Palembang dan beragama Islam. Namun, dia tidak pernah melewatkan kesempatan untuk menyaksikan atraksi barongsai saat perayaan Imlek.
“Kami sekeluarga itu gembira menyambut perayaan Imlek karena bisa menyaksikan keindahan lampion hingga atraksi barongsai,” katanya.
Tidak ayal, ia bersama suami dan dua anaknya yang berusia 3 tahun dan 5 tahun mendatangi pusat-pusat keramaian di Bandar Lampung. Semua demi menyaksikan atraksi barongsai saat perayaan Imlek.
Pertunjukan barongsai di pusat keramaian di Kota Bandar Lampung hanya salah satu potret semarak perayaan Imlek di Lampung. Kemeriahan serupa, misalnya, ada di kawasan Kampung Pecinan di Jalan Ikan Kakap, Kelurahan Pesawahan, Teluk Betung Selatan.
Kawasan itu memang menjadi lokasi pusat perayaan Imlek di Bandar Lampung. Di dekat lokasi itu, berdiri Wihara Thay Hin Bio. Tempat ibadah bagi umat Buddha itu yang tertua di Lampung, berdiri sejak 1896.
Saat malam menjelang perayaan Imlek, Selasa (28/1/2025), ribuan umat Buddha yang ada di Lampung berdatangan ke sejumlah wiraha yang ada di kawasan itu untuk beribadah. Atraksi barongsai juga dipentaskan di sepanjang jalan untuk memeriahkan suasana Imlek. Ribuan masyarakat tumpah ruah menyaksikan pertunjukan tersebut.
Tarik wisatawan
Tahun Baru Imlek 2025 yang berdekatan dengan libur panjang akhir pekan dan Isra’ Mi’raj juga membuat banyak wisatawan datang ke Lampung. Sejumlah pelancong singgah ke kampung pecinan di Bandar Lampung untuk menyaksikan atraksi barongsai.
Salah satunya adalah pasangan suami-istri Dian (30) dan Alan (30) yang datang bersama seorang anaknya yang berusia 4 tahun. Wisatawan asal Palembang, Sumatera Selatan itu, baru saja berlibur ke pantai di Kabupaten Lampung Selatan.
Saat sedang membeli oleh-oleh di Kota Bandar Lampung, mereka mendapat informasi jika di lokasi itu akan ada atraksi barongsai. Tidak ingin ketinggalan, mereka pun turut menyaksikan kemeriahan perayaan Imlek di Kota bandar Lampung.
Tak hanya penonton, potret keberagaman juga terlihat dari para pemain barongsai di Lampung. Para pemain ternyata bukan hanya warga keturunan Tionghoa, melainkan warga dari berbagai suku dan agama yang berbeda.
Basir (32), nelayan keturunan Suku Lampung mengaku sudah mempelajari barongsai sejak remaja. Beberapa bulan menjelang Imlek, ia rela izin tidak melaut demi berlatih barongsai. Semua itu ia lakukan demi merawat budaya dan keberagaman yang sudah terjalin sejak ratusan tahun silam di Lampung.
Ketua Paguyuban Sosial Marga Tionghoa (PSMTI) Lampung Christian Chandra berharap, atraksi barongsai dan perayaan Imlek tahun ini diharapkan semakin mempererat persaudaraan masyarakat Lampung. Ia mengajak masyarakat Lampung untuk sama-sama menjaga kerukunan umat beragama.
PSMTI Lampung selama ini juga turut merawat keharmonisan dan keberagaman masyarakat Lampung lewat berbagai kegiatan sosial. Mereka juga terlibat dalam berbagai kegiatan seni budaya masyarakat Lampung.
Adapun warga keturunan Tionghoa di Lampung diperkirakan berjumlah lebih dari 100.000 orang. Mereka hidup berdampingan dan berbaur dengan masyarakat berbagai suku di 15 kabupaten/kota di Lampung. Tak sedikit warga Tionghoa yang menikah dengan warga dari suku lain.
Ajakan untuk terus memupuk kerukunan antarumat beragama di Lampung juga diserukan Kapolda Lampung Inspektur Jenderal Helmy Santika. Keberagaman suku, agama, dan budaya sepatutnya menjadi modal awal untuk menyongsong Indonesia Emas.
“Masyarakat kita adalah masyarakat yang majemuk dengan bangsa yang beragam, mari kita sama-sama menjaga kerukunan umat beragama,” kata Helmy ketika meninjau perayaan Imlek di Bandar Lampung.
Sementara itu, pemuka agama Buddha dari Wihara Thay Hin Bio, Romo Pandita Joni Kardiyanto berharap, semua orang merasakan kebahagiaan Imlek. Perayaan Imlek sudah semestinya menjadi momentum untuk semakin memperkuat rasa persaudaraan dan toleransi di Tanah Air. Seperti halnya harapan dalam atraksi barongsai, yakni memberikan keberuntungan dan kebahagiaan serta mengusir hal-hal buruk.