KEMUAKHIAN LAMPUNG BANTEN

By Redaksi 24 Sep 2020, 20:40:50 WIB TOKOH
KEMUAKHIAN LAMPUNG BANTEN

Diandra Natakembahang
adoq Batin Budaya Poerba
Redaksi Bung News

Perjalanan kebudayaan dan pertautan sejarah antara Lampung dan Banten telah berjalan secara simultan dan berkesinambungan dari generasi ke generasi. Pada era klasik, rumpun Pesagi Seminung atau rumpun suku bangsa Lampung diperintah oleh para Dapunta, para Puyang yang akhirnya mendirikan imperium Srivijaya dengan memulai kekuasaannya dari Minanga Komering dan mencapai puncaknya dengan Ibu Negeri Palembang. Kekuasaan  Srivijaya pada era keemasannya membentang pada wilayah yang kita kenal sebagai Asia Tenggara atau Nusantara, bahkan hingga sejauh pulau Madagaskar dipantai Afrika. Pada masa keemasannya Jurai Dapunta Hyang Jayanasa dan Syailendra membangun Borobudur yang merupakan mahastupa dan mercusuar bagi ummat Buddhist didunia. Artefak dan peninggalan Kedatuan Srivijaya selain di Indonesia, juga didapati di Ligor Thailand saat ini, Kamboja, Laguna di Filipina, Nalanda diselatan India dan di Kanton Cina.

Diantara Datu Srivijaya yang mashur pada masanya adalah Punku Aji Ywaraja Sri Haridewa, nama Dapunta ini terpahat pada Prasasti Hujung Langit di Pekon Bawang Balik Bukit. Pada akhir masa Srivijaya, hubungan baik dan pertautan dengan wilayah Jawa bagian barat telah memulai babak baru dengan terjalinnya pernikahan antara Putri Ratna Sarkati, seorang Putri dari Kendali Lampung dengan dengan Prabu Niskala Wastu Kancana putra Prabu Lingga Buana dari Sunda Galuh. Kedatangan rombongan Putri Ratna Sarkati tersebut membawa Pisang Muli yang waktu itu hanya ada di Tanoh Lampung. Sehingga pada saat ini di Jawa bagian Barat dikenal juga dengan sebutan Cau Muli dan atau Cau Lampung. Dari pernikahan tersebut akhirnya melahirkan Prabu Susuk Tunggal atau Sang Haliwungan, dan merupakan Raja Sunda. Sementara Permaisuri yang kedua adalah Mayangsari, dari perkawinan ini lahirlah Ningrat Kancana, menjadi Raja Galuh dan bergelar Prabu Dewa Niskala.

Pada era kemudian setelah berdirinya Kesultanan Banten, Umpu Junjungan Sakti dari Buway Belunguh Lampung melakukan lawatannya ke Banten. Saat itu di Banten rupanya sedang terjadi huru hara yang diakibatkan oleh Si Buyuh, sehingga terjadi kekacauan dan chaos diwilayah Kesultanan Banten. "Si Buyuh" dalam hal ini selain bermakna tokoh juga bermakna kias, akan perseteruan antara Kesultanan Banten yang mulai berdiri tegak versus Pakuan Pajajaran yang masih ingin menunjukkan eksistensinya. Fihak Banten menyatakan sayembara untuk memberikan separuh wilayah kerajaan bagi siapapun yang berhasil memadamkan perlawanan Si Buyuh. Akhirnya Umpu Junjungan Sakti dari Sekala Bekhak Lampung bersama para Hulubalangnya berhasil mengalahkan Si Buyuh, Banten menepati janjinya dengan memberikan separuh wilayah kerajaan kepada Umpu Junjungan Sakti, namun ditolak secara halus oleh sang Umpu, dan beliau kembali ke Lampung.

Masa selanjutnya, kemuakhian Lampung Banten terus berlanjut hingga saling bertukar pasukan perang. Ketika Banten membutuhkan pasukan, Lampung memberikan pasukan terbaiknya, begitu pula sebaliknya. Kepentingannya Banten harus menaklukkan beberapa kerajaan kecil seperti Parung Kujang yang berada di Lebak. Misi penaklukkan Parung Kujang adalah untuk mengIslamkan masyarakat di sana. Ada 40 Hulubalang Lampung beserta pemimpin pasukannya yang dikerahkan untuk menaklukkan Parung Kujang adalah merupakan pasukan terbaik dari Lampung yang dikomandoi oleh Depati Minak Sangaji. Pertalian sejarah antar kedua kerajaan ini membuat Sultan Banten merasa berutang budi pada Keratuan Lampung, Banten akhirnya menawarkan posisi Adipati atau Raja di beberapa wilayah bawahan Kesultanan Banten. Depati Minak Sangaji akhirnya menghabiskan masa hidupnya dengan memilih wilayah Anyer bersama dengan 40 Sekuren atau 40 Kepala Keluarga. 

Kemufakatan dan kebersamaan Lampung Banten ini diabadikan dalam Dalung Kuripan, sebuah prasasti yang merupakan wujud persatuan dan persaudaraan yang diikrarkan oleh Ratu Darah Putih dan Maulana Hasanudin. Dalung Kuripan menyebutkan tentang bentuk saling dukung dan saling bela dari Keratuan Lampung dan Kesultanan Banten saat mendapatkan ancaman dari luar, dan saling dukung dalam kebersamaan dan kerjasama. Pada 1690, Sultan Pikulun Ratu Di Lampung dari Buway Nyerupa Sekala Bekhak memenuhi undangan Sultan Abdul Muhasin Zainul Abidin. Sebagai tanda kekerabatan, Sultan Banten memberikan adoq Banten kepada Sultan Pikulun yaitu Tubagus Makmur Hidayatullah, lawatan ini diabadikan dalam Tambo tembaga dari kuningan. Diberikan pula tombak serta keris pusaka sebagai tanda pengakuan keluarga bangsawan Lampung, Sultan Pikulun akhirnya meninggalkan pula punggawanya diwilayah Cikoneng Banten.

 

Tabik Puuun..




Berita Terkait

Berita Populer

Write a Facebook Comment

Tuliskan Komentar anda dari account Facebook

View all comments

Write a comment


Temukan juga kami di

Ikuti kami di facebook, twitter, Google+, Linkedin dan dapatkan informasi terbaru dari kami disana.

Jejak Pendapat



Komentar Terakhir

  • Jual Payung Promosi

    Duuuh,, bagus-bagus banget payung - payung di festival tersebut. Bentuknya payungnya indah dan ...

    View Article
  • Danang

    Sip ...

    View Article
  • seo services jakarta

    Apa yang dilakukan Pemprov Lampung dengan mengibahkan ambulans untuk IKLB adalah hal baik yang ...

    View Article

Video Terbaru

View All Video